Skip to main content

On Reading A Blog


Saya suka mengikuti blog orang karena pada dasarnya saya suka baca. Yang saya suka baca bukan cuma blog yang isinya cerita sehari-hari dan curhat atau pemikiran pemiliknya aja sih, tapi saya juga suka baca blog yang spesifik kayak blog resep masakan, blog tentang mikroekonomi, fashion blog, sampai blog persiapan pernikahan. Pokoknya saya suka baca semuanya.

Nah soal blog yang isinya cerita personal sehari-hari, memang rasanya jadi kayak kenal luar dalam banget sama pemiliknya, apalagi kalau diupdate terus. Rasanya jadi kayak teman yang cerita ke kita. Kadang ada orang yang dianggap oversharing terus dicela, dinyinyirin bahkan dihujat oleh pengguna internet lainnya.

Padahal ya, kalau menurut saya, kalau memang nggak suka sama.isi blognya, ya sudah sih, close aja, nggak usah main ke situ lagi, nggak usah buka blognya. Selesai masalah. Ngapain coba cari ribut sama orang?

Kalau saya sih merasa seru aja ada orang yang mau berbagi kisah hidup sama kita, kadang saya ikut terhanyut sama kisahnya, kalau dia sedang sedih rasanya kita juga ikut sedih. Begitu juga saat dia bahagia kita pun ikutan senang. Udah, gitu aja. Nggak perlu gimana-gimana.

Selain mengikuti blog teman yang saya kenal pribadi, saya suka mengikuti kisah Woro Pradono, suka baca blog Anggi, suka baca blognya Alaya. Alaya nggak banyak berbagi banyak info sehari-hari yang pribadi, tapi dia sharing hal-hal kecil dan sisanya remain mistery. I love her writings.

Kalau kamu? Suka nggak baca blog? Suka yang seperti apa?

Comments

Popular posts from this blog

Lekas Sembuh, Bumiku

Ada banyak hal yang memenuhi pikiran setiap orang saat ini, yang sebagian besarnya mungkin ketakutan. Akan virus, akan perekonomian yang terjun bebas, akan harga saham, akan  ketidakpastian akankah besok masih punya pekerjaan. Ada banyak kekuatiran, juga harapan. Ada jutaan perasaan yang sebagian besarnya tak bisa diungkapkan. Tanpa melupakan bahwa kita tak hanya cukup merasa prihatin namun harus mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, marilah kita mensyukuri apa yang masih kita miliki. Setiap detik kehidupan yang masih diberikan kepada kita, atap untuk berteduh, rumah tempat kita bernaung, makanan, udara yang segar, dan keluarga tercinta yang sehat.

Tahun untuk Berjuang

Saya tidak bermaksud membuat blog ini menjadi kumpulan essay galau, apalagi di awal tahun dan awal dekade yang semestinya disambut dengan penuh semangat. Tapi mungkin tahun ini memang saya mengalami krisis usia 30-an. Mungkin juga usia 30 adalah usia mendewasa yang sebenarnya sehingga banyak hal yang mendadak tersangkut di pikiran. Dan mungkin juga tahun ini memang dibuka dengan berbagai duka yang belum selesai dari tahun lalu. Seorang kerabat dekat yang sangat saya sayangi divonis dengan penyakit yang cukup serius tahun lalu, dan tahun ini kami semua berjuang untuk kesembuhannya. Sangat sulit untuk tetap berpikiran positif di saat ketidakpastian yang mencekam ada di depan mata. Selain satu hal ini, ada beberapa hal lain dalam hidup kami yang sedang tidak beres, seakan semesta kami mulai runtuh sedikit-sedikit, dan jiwa saya lumat perlahan-lahan di dalam pusaran masalah yang tak henti. Saya berkali-kali mencoba mengingatkan diri bahwa saya harus tetap berusaha untuk tid...

sepatu

Pengakuan. Saya (pernah) punya lebih dari 50 pasang alas kaki. Terdiri atas sepatu olahraga, sneakers, high heels, wedges, flat shoes, sandal-sandal cantik, flip flop, sendal gunung, hampir semua model sepatu dan sandal (waktu itu) saya punya. Ada yang dibeli dengan tabungan beberapa bulan, khususnya yang sepatu kantor dan olahraga, tapi sebagian besar berasal dari rak diskon (untungnya ukuran saya 35 up to 36 sehingga sewaktu sale di mana-mana penuh ukuran itu dengan harga super miring, bahkan sering saya dapat sepatu Yongki dengan hanya 20 ribu rupiah saja) atau hasil jalan-jalan di Melawai. Sewaktu saya pindahan dari Jakarta ke Samarinda, Mr Defender sangat syok dengan paket yang berisi baju, sepatu, tas, dan asesoris saya yang jumlahnya mencapai 20 kardus Aqua besar (jangankan dia, saya pun syok). Lalu ketika akhirnya lemari di kos baru saya nggak muat menampung itu semua dan akhirnya sebagian besar dari 20 kardus itu terpaksa tetap dikardusin, setiap saya naksir baju, sepatu,...