Skip to main content

Posts

Gilmore Girls

Gilmore Girls adalah serial drama TV favorit saya. Saya mengikutinya sejak masih SMA hingga menjelang lulus kuliah. Kebetulan saya berada di timeline kehidupan yang sama dengan Rory Gilmore, ketika mulai nonton serial ini saya masih SMA seperti Rory, lalu Rory kuliah di saat yang hampir sama dengan saya, dan saya merasa kami banyak mengalami fase hidup yang sama. Mungkin itulah sebabnya saya sangat menyukai serial ini. Di samping, yah, Rory punya ibu yang keren dan hubungan ibu-anak yang dekat dan hangat, sesuatu yang saya tidak atau kurang memilikinya.
Sewaktu Gilmore Girls berakhir (tapi tidak tamat) di season 6 saya merasa kehilangan, karena itu sewaktu Netflix membuat miniseri 4 episode Year In the Life 10 tahun kemudian, saya antusias ingin tahu ending kisah ini. Miniseri iNi sendiri banjir pujian dan celaan dari fans setia Gilmore Girls di seluruh dunia. Namun bagi saya sendiri, miniseri ini lumayan memuaskan, dan membuat saya belajar banyak hal dari tokoh tokoh fiksi ini.
Ketika…
Recent posts

Bye, Bocor Halus

Pernah ngerasa nggak sih, gaji sudah lumayan besar tapi tanggal belasan udah ngos-ngosan sehingga di akhir bulan harus gesek kartu kredit? Atau, merasa sudah nggak pernah belanja-belanja barang bermerek tapi kok tabungan nggak nambah-nambah? Investasi jalan di tempat padahal sudah mengeliminasi liburan rutin? Hahaha, curhat banget ya. Kalau kata orang sih, kondisi keuangan bisa jadi seperti ini karena dompet kita mengalami bocor halus.
Bocor halus, atau kalau di istilah perencana keuangan sering disebut the latte factor, adalah pengeluaran-pengeluaran kecil yang tidak terasa saat dikeluarkan tetapi frekuensinya sering sehingga jumlahnya jadi banyak kalau dikumpulkan. Ya seperti untuk beli latte.


Besar kecilnya pengeluaran memang relatif ya buat setiap orang. Ada yang standar 'kecil' nya puluhan ribu, ada juga yang apa pun di bawah sejuta masih terasa kecil dan enteng saja mengeluarkan tanpa sadar. Namun pada umumnya bocor halus digunakan untuk menyebut pengeluaran yang per it…

Karena aku tidak mengerti kamu yang tidak mengerti dia.

Di antara teman-teman dekat saya, dulu saya paling lambat memiliki hubungan 'serius'. Saat Miss Turquoise sudah punya calon suami, Mr Cajoon punya pasangan lumayan serius (dalam artian mereka mempertimbangkan pernikahan), saya dan Mr Defender masih dalam tahap pacaran yang begitu-begitu saja dan tidak ke mana-mana (karena banyaknya persoalan yang mengganjal di antara kami sehingga terlalu dini rasanya bahkan untuk membicarakan apakah kami akan tetap bersama bulan depan). Setiap saya bersama Mr Cajoon, atau Miss Turquoise, dan mereka membicarakan hubungan seriusnya dan rencana masa depan bersama pasangan, saya selalu merasa begitu jauh, karena saya sendiri belum mencapai fase itu. Beberapa teman kuliah saya bahkan segera menikah tak lama setelah wisuda, dan walaupun saya selalu menghadiri pernikahan mereka dengan senang hati dan turut bahagia, ada sedikit perasaan cemas bahwa mereka mencapai apa yang belum saya capai.
Ada saatnya di mana saya masih sibuk jalan-jalan dan naik g…

Kita semua hanya berusaha untuk tidak tenggelam.

Live and let live. Kalimat itu selalu berusaha saya tanamkan di pikiran saya setiap kali terlintas untuk menghakimi, mengomentari, atau menyinyiri orang atau keadaan di sekitar saya. Semua orang punya perjuangan dan alasannya sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan apapun itu. Karena itu saya sudah lama berhenti memperhatikan apa yang orang asing lakukan: artis, selebgram, segerombolan ibu-ibu arisan... apapun konteksnya. Pilihan cara melahirkan, tebal make up, jumlah arm candy di tangan, cara mendidik anak, pilihan caleg saat pilkada... selama tidak membahayakan hidup saya, I just live and let live. Hidup lebih damai seperti itu. (Tentu saja kalau orangnya Fahri Hamzah, Fadli Zon atau Jokowi, sulit untuk live and let them live their life karena apa yang mereka lakukan mempengaruhi nasib rakyat banyak, termasuk saya. Tapi itu beda hal, dan butuh satu posting panjang berbeda).
Hanya saja, terkadang sulit untuk live and let live apabila objeknya adalah orang-orang yang kita pedulik…

Kencan

Setelah mempunyai dua anak, dan apalagi setelah tidak punya babysitter lagi, urusan kencan menjadi prioritas yang kesekian bagi saya dan Mr Defender (atau bahasa halusnya, terlupakan). Apalagi saat ini di mana Mr Defender bekerja di kota lain dan hanya ada di rumah saat akhir pekan (pun tidak setiap minggu) semakin sulit rasanya menyisipkan jadwal kencan di antara waktu kebersamaan kami yang terbatas.
Padahal, menurut saya nih, kencan itu penting loh untuk memelihara romansa di antara sepasang manusia yang mungkin sudah mulai pudar karena jarak, rutinitas pekerjaan dan anak-anak. Nah lalu solusinya bagaimana dong?
Kalau buat kami, ada beberapa aktivitas yang kami lakukan buat mengganti malam mingguan standar makan di luar: 1. Mengajak anak-anak jalan ke taman. Waktunya bisa pagi atau malam. Kebetulan di tempat kami tinggal banyak taman yang luas. Anak-anak bersepeda, main skuter, naik ayunan atau naik mobil-mobilan sewaan. Kami bisa duduk santai berdua sambil makan kacang rebus, mengobr…