Skip to main content

Posts

Tahun untuk Berjuang

Saya tidak bermaksud membuat blog ini menjadi kumpulan essay galau, apalagi di awal tahun dan awal dekade yang semestinya disambut dengan penuh semangat. Tapi mungkin tahun ini memang saya mengalami krisis usia 30-an. Mungkin juga usia 30 adalah usia mendewasa yang sebenarnya sehingga banyak hal yang mendadak tersangkut di pikiran. Dan mungkin juga tahun ini memang dibuka dengan berbagai duka yang belum selesai dari tahun lalu.
Seorang kerabat dekat yang sangat saya sayangi divonis dengan penyakit yang cukup serius tahun lalu, dan tahun ini kami semua berjuang untuk kesembuhannya. Sangat sulit untuk tetap berpikiran positif di saat ketidakpastian yang mencekam ada di depan mata. Selain satu hal ini, ada beberapa hal lain dalam hidup kami yang sedang tidak beres, seakan semesta kami mulai runtuh sedikit-sedikit, dan jiwa saya lumat perlahan-lahan di dalam pusaran masalah yang tak henti.
Saya berkali-kali mencoba mengingatkan diri bahwa saya harus tetap berusaha untuk tidak tenggelam (…
Recent posts

Yang Baru di Tahun Baru

Bertambah tahun, bertambah apa?


Setelah menulis posting panjang yang lumayan membuat depresi di penghujung tahun, saatnya menyingkirkan semua perasaan yang buruk di tahun lalu, menyimpan semua yang manis-manis dan melihat ke depan. Walaupun, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saat ini 'ke depan' terasa sangat samar. Mau ke mana? Mau apa? Mau jadi apa?
Tahun 2020 mungkin akan menjadi tahun di mana kegalauan saya memuncak tentang arah kehidupan, hahaha. Saya punya hampir segalanya, numbers speaking. Bukan yang uangnya tak berseri juga sih, tapi cukup untuk hidup nyaman setelah bertahun-tahun menabung dan menunda banyak keinginan yang akan menghamburkan uang. Punya tabungan yang cukup untuk kuliah anak-anak di tempat yang saya mau (kalaupun nambah, ya seharusnya tidak banyak-banyak amat). Intinya, we are financially secure, at least according to my own targets. Tentunya di samping itu, banyak juga target hidup saya yang gagal dengan spektakuler, namun itu cerita untuk lai…

Di Mana Kita Saat Ini?

Saatnya untuk refleksi akhir tahun. Atau tidak?


Satu tahun lagi akan berlalu, dan penghujung tahun ini akan menjadi penutup satu dekade sekaligus membuka satu dekade baru lagi. Dan tahun baru pun tiba. Juga dekade baru, tahun anggaran baru, semester sekolah baru, dan semua yang baru.
Setiap akhir tahun, setelah pekerjaan kantor selesai dan orang-orang cuti, menjelang pulang kampung untuk merayakan natal, saya selalu beres-beres. Beres-beres rumah, meja belajar anak-anak, menyortir kertas-kertas tagihan dan dokumen tahun lalu serta membuang yang tidak perlu. Membuka ulang lemari anak-anak dan memilah pakaian yang sudah rusak atau kekecilan. Menyimpan baju kekecilan yang masih bagus dan membuang yang sudah tak tertolong. Mendaftar apa yang perlu dibeli dan diselesaikan sebelum kami pulang kampung untuk merayakan natal bersama keluarga Mr Defender.
Di kantor saya juga beberes file-file lama, menghancurkan dokumen fisik yang tidak terpakai dan menghapus fike komputer yang tidak diperluka…

Autopilot

Kadangkala hidup sebagai ibu terasa berjalan dalam mode autopilot. Bangun pagi dengan alarm lagu pembuka Tiger and Pooh (saya menyalakan TV saat bangun tengah malam, setiap malam, menonton Disney Junior sampai ketiduran dan akan bangun jam lima pagi saat Tiger and Pooh tayang, setiap hari tanpa kecuali), berguling di kasur beberapa saat untuk kemudian setengah sadar menyalakan mesin cuci dan memilah baju-baju kotor sesuai warna. Sambil menunggu cucian selesai saya akan mencuci beras lalu memasak nasi, mengecek kulkas dan meja makan lalu menyiapkan sarapan dan bekal sekolah anak-anak berdasarkan apa yang tersisa di sana. Menyusun piring dan gelas cucian tadi malam ke tempatnya. Menjemur cucian saat mesin cuci berbunyi tut tut. Mandi pagi. Menyiapkan baju sekolah anak-anak. Lalu membangunkan semua orang untuk mandi dan siap-siap. Lima belas menit kemudian semua siap keluar dari rumah, ke tempat tujuan masing-masing...
... di mana saya masih berlanjut dengan mode autopilot. Mengerjakan …

Tunggulah

hari itu ku mengingat hari ini saat tebak yakinku ini pasti terjadi hari di mana tanah langit juga samudra kabut pagi menyaksikanku merekalah saksi menyaksikanku mati (Akulah Ibumu, FSTVLST)
Beberapa hari yang lalu dunia, khususnya para penggemar KPop dikagetkan dengan meninggalnya Goo Hara, setelah selang sebulan sebelumnya Choi Jinri atau Sulli juga mengakhiri hidupnya. Banyaknya kasus bunuh diri di kalangan KPop Idol memang membuat kabar seperti ini seakan hanya another suicide on the news, tetapi mereka yang merasa dekat dengan idolanya pasti akan terguncang, seperti para penggemar musik pop 80-an merasa sedih saat Michael Jackson meninggal.
Bagi saya yang bukan penikmat KPop, berita ini juga menyisakan selarik perih lebih karena penyebab meninggalnya Goo Hara (dan Sulli dan banyak KPop idols lainnya). Ditinggalkan seseorang karena bunuh diri berbeda dengan ditinggalkan karena usia tua, sakit, bahkan kecelakaan mendadak. You just can't easily recover from the experience. Maybe you…