Skip to main content

Kilas Balik

Dalam hitungan minggu, tahun ini akan berlalu. Begitu banyak hal yang terjadi di tahun ini, yang menyenangkan dan yang menyedihkan, yang kecil dan yang besar. Tahun ini saya akhirnya menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana (akhirnya!), tahun ini juga saya merasa menemukan sahabat-sahabat sejati saya, serta memutuskan untuk bekerja dan tinggal di kota lain di pulau lain.

Keputusan untuk pindah tampat tinggal ini saya ambil setelah mempertimbangkan banyak hal, namun terutama karena saya ingin berada di dekat Mr Defender. Setelah beberapa tahun yang kami jalani bersama, saya merasa tinggal satu kota adalah hal yang terbaik agar kami berdua tidak terus menguras tabungan. Dalam dua tahun ini pasti kami sudah membuat Telkomsel, Lion Air, dan Garuda lebih kaya, hahaha...

Walaupun kami belum berencana untuk menikah dalam waktu dekat (bahkan sejujurnya kami belum memikirkan itu sama sekali) namun tentunya setiap orang bertanya kami akan jawab, ya, tentu saja hubungan kami serius. Mungkin aneh ya bagi orang lain, mengambil keputusan sebesar ini sebelum minimal bertunangan. Tapi buat saya sendiri yang menjalaninya, sebenarnya nggak aneh-aneh amat kok, kami cuma memilih yang nyaman dan paling praktis buat kami. Karena Mr Defender nggak mungkin pindah ke ibukota dalam waktu dekat, ya artinya saya yang harus pindah lebih dulu ke Samarinda. Dan sebentar lagi kami akan bersama. Pastinya menyenangkan, dan saya semangat untuk cepat-cepat tahun depan!

Comments

Popular posts from this blog

Lekas Sembuh, Bumiku

Ada banyak hal yang memenuhi pikiran setiap orang saat ini, yang sebagian besarnya mungkin ketakutan. Akan virus, akan perekonomian yang terjun bebas, akan harga saham, akan  ketidakpastian akankah besok masih punya pekerjaan. Ada banyak kekuatiran, juga harapan. Ada jutaan perasaan yang sebagian besarnya tak bisa diungkapkan. Tanpa melupakan bahwa kita tak hanya cukup merasa prihatin namun harus mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, marilah kita mensyukuri apa yang masih kita miliki. Setiap detik kehidupan yang masih diberikan kepada kita, atap untuk berteduh, rumah tempat kita bernaung, makanan, udara yang segar, dan keluarga tercinta yang sehat.

Tahun untuk Berjuang

Saya tidak bermaksud membuat blog ini menjadi kumpulan essay galau, apalagi di awal tahun dan awal dekade yang semestinya disambut dengan penuh semangat. Tapi mungkin tahun ini memang saya mengalami krisis usia 30-an. Mungkin juga usia 30 adalah usia mendewasa yang sebenarnya sehingga banyak hal yang mendadak tersangkut di pikiran. Dan mungkin juga tahun ini memang dibuka dengan berbagai duka yang belum selesai dari tahun lalu. Seorang kerabat dekat yang sangat saya sayangi divonis dengan penyakit yang cukup serius tahun lalu, dan tahun ini kami semua berjuang untuk kesembuhannya. Sangat sulit untuk tetap berpikiran positif di saat ketidakpastian yang mencekam ada di depan mata. Selain satu hal ini, ada beberapa hal lain dalam hidup kami yang sedang tidak beres, seakan semesta kami mulai runtuh sedikit-sedikit, dan jiwa saya lumat perlahan-lahan di dalam pusaran masalah yang tak henti. Saya berkali-kali mencoba mengingatkan diri bahwa saya harus tetap berusaha untuk tid...

sepatu

Pengakuan. Saya (pernah) punya lebih dari 50 pasang alas kaki. Terdiri atas sepatu olahraga, sneakers, high heels, wedges, flat shoes, sandal-sandal cantik, flip flop, sendal gunung, hampir semua model sepatu dan sandal (waktu itu) saya punya. Ada yang dibeli dengan tabungan beberapa bulan, khususnya yang sepatu kantor dan olahraga, tapi sebagian besar berasal dari rak diskon (untungnya ukuran saya 35 up to 36 sehingga sewaktu sale di mana-mana penuh ukuran itu dengan harga super miring, bahkan sering saya dapat sepatu Yongki dengan hanya 20 ribu rupiah saja) atau hasil jalan-jalan di Melawai. Sewaktu saya pindahan dari Jakarta ke Samarinda, Mr Defender sangat syok dengan paket yang berisi baju, sepatu, tas, dan asesoris saya yang jumlahnya mencapai 20 kardus Aqua besar (jangankan dia, saya pun syok). Lalu ketika akhirnya lemari di kos baru saya nggak muat menampung itu semua dan akhirnya sebagian besar dari 20 kardus itu terpaksa tetap dikardusin, setiap saya naksir baju, sepatu,...