Skip to main content

Posts

Back in Jakarta

Minggu lalu, saya mengunjungi Mr Defender di tempat tugasnya di Balikpapan. Kami merayakan ulang tahunnya yang ke-24. Saya membelikannya sebuah gitar, dan kami menyanyikan beberapa lagu bersama. Malam sebelum saya kembali ke Jakarta, kami makan malam di tempat pilihannya, sebuah restoran yang sangat fancy , yang tidak akan kami datangi di hari-hari biasa. Kami menghabiskan waktu yang menyenangkan bicara tentang banyak hal, menyelesaikan beberapa perdebatan yang tidak bisa kami bahas di telepon atau sms, dan menertawakan kebodohan kami. Mr Defender merencanakan perjalanan ke Jakarta dua bulan ke depan. Pasti akan menyenangkan. 

Layar Kaca

Saya capek lihat Manohara di televisi. Capek lihat air mata buaya dan berbagai versi cerita. Saya malas dengan orang yang playing victim gitu. Lebih nggak ingin lagi percaya dengan cerita ibu yang menjual anaknya. Kok tega? Saya capek dengan debat dan spekulasi tentang siapakah calon wapres yang akan mendampingi SBY. Sebenarnya sih saya sedih karena SBY dan JK pecah kongsi. Asli lho, menurut saya keduanya cocok banget dan jadi bagus karena berdua. Sendiri sendiri? Entah ya. Saya capek sama televisi sekarang. Juga berita Antasari Azhar yang masih beredar. Saya dari dulu nggak pernah ngefans Antasari biarpun dia masuk nominasi dan menang people of the year versi majalah kampus kami. Meski salah satu dosen saya selalu kasih cuci otak tentang Antasari yang difitnah dan KPK yang bersih. Ah, entahlah, susah untuk menemukan yang 100% bersih di dunia ini. Intinya: saya pengen acara tv yang lebih bermutu. Bahkan maraton nonton Gossip Girl atau Gilmore Girls rasanya jauh lebih wa...

It's All Fine

I write the love letters you never got, the ones you never sent.  And I'll throw these words out there like confetti at the wedding you and I never had. All is well and someday we'll find someone else. Someone I truly love. Someone who deserve you more than I do. And then we'll remember eachother with no grudges. No regrets. Maybe we'll thank eachother for everyhting we shared. For our laughter and our tears. Well, most were my tears, but it's okay because it made me grow. Maybe we'll laughed at us, the us we used to be. And we'll look at eachother so deeply, for the last time. And wave goodbye. It's all fine.

Kopitiam Oey

Kemarin waktu iseng jalan-jalan ke Sabang nemu tempat ini, lucu, terus nyoba masuk dan lihat-lihat menu kok kayaknya menarik... menunya pakai bahasa tempoe doeloe jadul gitu. Nyoba mesen sego ireng yang ternyata adalah nasi goreng pakai tinta cumi.. yummy... makanannya sih nggak begitu banyak pilihan, simpel tapi nampak enak. Tempatnya juga homey dan cozy gitu bikin betah. Lain kali mau kesini lagi sama dia ah...

Yes I Remember

Seseorang yang dulu pernah sangat istimewa memberi saya sebuah kabar bahagia. Saya ikut bahagia, serius. Saya menangis di telepon, namun sungguh saya merasa bahagia untuknya. I loved him, I still love him and he will always has a special place in my heart , tapi saya merasa senang bahwa akhirnya dia menemukan orang lain yang layak menerima cintanya dan menghabiskan hidup bersamanya.  Seusai telepon itu saya tersenyum mengingat semua kebersamaan kami, bicara tentang apa saja, berdua bersisian, kadang tidak bicara namun dia selalu bisa membuat saya tenang, damai, adem, ces. Dia punya kualitas yang jarang dimiliki laki-laki lain yang saya kenal. Dia ngemong, dia baik, dia perhatian, kepada siapa saja. Saya merasa beruntung pernah mengenal, menyayangi, dan disayangi olehnya. Saya punya satu memori indah tentangnya, suatu malam di Bogor yang dingin. Saat itu pendakian baru saja usai dan setelah perjalanan yang manis dan menyenangkan sepanjang Puncak Pass, kami berdua maka...