Skip to main content

On Brokenheart

I once had a very, very massive brokenheart. Kamu tahu, patah hati yang bener-bener bikin susah makan, susah tidur, nggak semangat ngapa-ngapain, pengennya dengerin lagu putus cinta sepanjang hari, yang menyisakan luka menganga segede Pulau Kalimantan di dalam hati. Iya, aku pernah.

I loved him oh so much. Saya kira kami bakal bersama selamanya. And then he cheated on me. He hurt me so bad I feel like I was really bleeding outside. Saya jadi benci banget sama dia dan perempuannya... untuk beberapa saat.

Sampai kemudian saya sadar sesadar-sadarnya, dia bahkan nggak mencintai saya. Iya, saya suka banget sama dia. Iya, saya cinta. Saya pengen bareng sama dia selamanya. Tapi balik lagi, kalau dia nggak benar-benar cinta sama saya, terus saya mau apa? Saya nggak bisa memaksakan kan dia buat terus sayang sama saya? Mungkin buat dia saya bukan the one. Dan sesakit apa pun hati saya, saya harus menghormati bahwa dia mencintai orang lain, orang lain itu juga mencintai dia, dan saya harus terima itu.

I could live with that.



Tentu saja itu berat. Tapi itu mengurangi rasa sakit saya secara signifikan. Menerima. Melepas. Saya bersyukur saya pernah merasakan jatuh cinta setengah mati. Saya nggak menyesal atas semua yang terjadi, sebab yah, begitulah hidup. Sometimes we have to let things go. Things that we really love.

Comments

Popular posts from this blog

Lekas Sembuh, Bumiku

Ada banyak hal yang memenuhi pikiran setiap orang saat ini, yang sebagian besarnya mungkin ketakutan. Akan virus, akan perekonomian yang terjun bebas, akan harga saham, akan  ketidakpastian akankah besok masih punya pekerjaan. Ada banyak kekuatiran, juga harapan. Ada jutaan perasaan yang sebagian besarnya tak bisa diungkapkan. Tanpa melupakan bahwa kita tak hanya cukup merasa prihatin namun harus mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, marilah kita mensyukuri apa yang masih kita miliki. Setiap detik kehidupan yang masih diberikan kepada kita, atap untuk berteduh, rumah tempat kita bernaung, makanan, udara yang segar, dan keluarga tercinta yang sehat.

Tahun untuk Berjuang

Saya tidak bermaksud membuat blog ini menjadi kumpulan essay galau, apalagi di awal tahun dan awal dekade yang semestinya disambut dengan penuh semangat. Tapi mungkin tahun ini memang saya mengalami krisis usia 30-an. Mungkin juga usia 30 adalah usia mendewasa yang sebenarnya sehingga banyak hal yang mendadak tersangkut di pikiran. Dan mungkin juga tahun ini memang dibuka dengan berbagai duka yang belum selesai dari tahun lalu. Seorang kerabat dekat yang sangat saya sayangi divonis dengan penyakit yang cukup serius tahun lalu, dan tahun ini kami semua berjuang untuk kesembuhannya. Sangat sulit untuk tetap berpikiran positif di saat ketidakpastian yang mencekam ada di depan mata. Selain satu hal ini, ada beberapa hal lain dalam hidup kami yang sedang tidak beres, seakan semesta kami mulai runtuh sedikit-sedikit, dan jiwa saya lumat perlahan-lahan di dalam pusaran masalah yang tak henti. Saya berkali-kali mencoba mengingatkan diri bahwa saya harus tetap berusaha untuk tid...

Bertambah Satu Tahun Usiamu, Bahagialah Kamu...

Sejak usia saya mendekati 30 tahun, menjelang saat berulang tahun selalu menjadi momen untuk menengok target yang selalu rajin saya tulis setiap tahun sejak awal usia 20an. Ingin mencapai ini dan itu, ingin begini begitu. Setiap mau ulang tahun saya juga melihat kembali target jangka panjang saya setiap dekade: before 30, before 40 dan seterusnya. Meskipun target before 40 saya baru saya susun tiga tahun lalu menjelang pergantian usia kepala tiga, tahun ini saya menatapnya kembali dan banyak hal di dalamnya yang sudah tidak terlalu relevan. Banyak hal dalam daftar itu yang tidak lagi saya inginkan. Ada beberapa yang ketika itu nampak besar dan penting namun sekarang tidak lagi. Alangkah anehnya hidup, waktu yang tiga tahun saja bisa mengubah sedemikian banyak hal. Hidup memang selalu berubah dan selalu mengalir. Banyak hal yang tidak kita rencanakan dan tidak kita antisipasi. Semesta menyiapkan kejutan di setiap tikungan jalan dan kita hanya bisa menerimanya sebaik mungk...