Skip to main content

Berdua..

...dengan Galuna!

Mr Defender sedang tidak di rumah untuk sebulan. Karena jaraknya sebenarnya lumayan dekat, sebenarnya lebih mudah kalau dia yang bolak-balik untuk menengok si Mbak Rocker dua minggu sekali di sela tugas. Tapi, karena saya juga lagi nggak terlalu sibuk di kantor, dan saya pikir, kenapa nggak saya aja yang menengoknya? Lebih seru juga kan, bisa sambil jalan-jalan di 'kota' dan saya bisa lama-lama di sana jika mengambil tiga hari cuti. Kalau Mr Defender yang ke sini kan pastinya cuma bisa di hari libur saja kan.

Berbekal percaya diri, percaya pada anak, dan nekat, saya beranikan diri juga pergi di hari Jumat sore sepulang kantor, naik mobil rental. Nggak bawa bekal apa-apa selain baju ganti kami berdua, tiga buah pampers dan tisu basah. Saya cuma membawa backpack kecil dan kain gendongan saja, nggak bawa tas popok, stroler, apalagi koper.

Perjalanan selama empat jam, Mbak Rocker anteng saja lho. Memang sih sempat rewel sebentar pas mau tidur, yang langsung saya susui dan tertidur dengan suksesnya. Hore, hebat anak ibu! Nggak ada drama apa-apa lho sepanjang jalan. Sampai di hotel tempat ayahnya menginap, karena yang ditengok belum pulang, saya sekalian mandikan dia, terus habis ganti baju cus kami pergi jalan-jalan ke mal, hahaha. Ibu jagoan ya cyin, hahaha... Sekalian beli makan buat ibu. Mbak Rocker sih belum waktunya makan, sabar sebulan lagi ya sayang... 

Sepulang suami saya ke hotel yang sudah lumayan malam kami bercerita dan kami berdua sangaat bangga sama Mbak Rocker yang nggak rewel sama sekali di perjalanan ini. Karena Mbak Rocker pintar, besok mau dihadiahi berenang, hore! Saya senang sekali dengan pengalaman bepergian dengan anak bayi ini, dan sepertinya saya bakalan ketagihan menengok Mr Defender nih, berhubung Mbak Rocker sangat kooperatif, hehehe... Lagi yuk minggu depan...

Comments

Popular posts from this blog

Lekas Sembuh, Bumiku

Ada banyak hal yang memenuhi pikiran setiap orang saat ini, yang sebagian besarnya mungkin ketakutan. Akan virus, akan perekonomian yang terjun bebas, akan harga saham, akan  ketidakpastian akankah besok masih punya pekerjaan. Ada banyak kekuatiran, juga harapan. Ada jutaan perasaan yang sebagian besarnya tak bisa diungkapkan. Tanpa melupakan bahwa kita tak hanya cukup merasa prihatin namun harus mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, marilah kita mensyukuri apa yang masih kita miliki. Setiap detik kehidupan yang masih diberikan kepada kita, atap untuk berteduh, rumah tempat kita bernaung, makanan, udara yang segar, dan keluarga tercinta yang sehat.

Tahun untuk Berjuang

Saya tidak bermaksud membuat blog ini menjadi kumpulan essay galau, apalagi di awal tahun dan awal dekade yang semestinya disambut dengan penuh semangat. Tapi mungkin tahun ini memang saya mengalami krisis usia 30-an. Mungkin juga usia 30 adalah usia mendewasa yang sebenarnya sehingga banyak hal yang mendadak tersangkut di pikiran. Dan mungkin juga tahun ini memang dibuka dengan berbagai duka yang belum selesai dari tahun lalu. Seorang kerabat dekat yang sangat saya sayangi divonis dengan penyakit yang cukup serius tahun lalu, dan tahun ini kami semua berjuang untuk kesembuhannya. Sangat sulit untuk tetap berpikiran positif di saat ketidakpastian yang mencekam ada di depan mata. Selain satu hal ini, ada beberapa hal lain dalam hidup kami yang sedang tidak beres, seakan semesta kami mulai runtuh sedikit-sedikit, dan jiwa saya lumat perlahan-lahan di dalam pusaran masalah yang tak henti. Saya berkali-kali mencoba mengingatkan diri bahwa saya harus tetap berusaha untuk tid...

Bertambah Satu Tahun Usiamu, Bahagialah Kamu...

Sejak usia saya mendekati 30 tahun, menjelang saat berulang tahun selalu menjadi momen untuk menengok target yang selalu rajin saya tulis setiap tahun sejak awal usia 20an. Ingin mencapai ini dan itu, ingin begini begitu. Setiap mau ulang tahun saya juga melihat kembali target jangka panjang saya setiap dekade: before 30, before 40 dan seterusnya. Meskipun target before 40 saya baru saya susun tiga tahun lalu menjelang pergantian usia kepala tiga, tahun ini saya menatapnya kembali dan banyak hal di dalamnya yang sudah tidak terlalu relevan. Banyak hal dalam daftar itu yang tidak lagi saya inginkan. Ada beberapa yang ketika itu nampak besar dan penting namun sekarang tidak lagi. Alangkah anehnya hidup, waktu yang tiga tahun saja bisa mengubah sedemikian banyak hal. Hidup memang selalu berubah dan selalu mengalir. Banyak hal yang tidak kita rencanakan dan tidak kita antisipasi. Semesta menyiapkan kejutan di setiap tikungan jalan dan kita hanya bisa menerimanya sebaik mungk...