Skip to main content

Selamat Tahun Baru

Di akhir tahun lalu, saya sempat berpindah tempat menulis. Bukan hanya berpindah tempat, sebenarnya, tetapi secara keseluruhan saya mengubah apa yang saya tulis, karena... yah karena. Just because. Sebelumnya saya merasa bahwa tulisan di blog ini kurang positif, dan saya ingin menjadi orang yang lebih positif, lebih ceria, menuliskan hal yang lebih bermanfaat apalagi karena sekarang saya telah menjadi istri dan ibu. Jadi menulislah saya tentang berbagai hal itu: tentang bagaimana menjadi seorang ibu.

Lalu saya menyadari bahwa blog baru saya tidak mencerminkan diri saya. Saya merasa menulis apa yang tidak saya minati. Tentu apa yang saya tulis itu nyata dan tidak palsu: saya menulis tentang traveling, tentang tips-tips memerah ASI dan hal kekinian lain berdasarkan apa yang saya alami, namun tetap saja itu bukan diri saya. Diri saya, tidak akan menulis hal-hal seperti itu, karena... yah karena. Dan lagipula, bukankah sudah banyak tulisan bermanfaat seperti itu, tidak ada orang lain yang membutuhkannya dari saya, kok.

Dan saya sadar: kemarin itu saya menulis untuk orang lain. Saya tidak seharusnya begitu. Seharusnya saya menulis apa pun yang saya inginkan, menulis apa yang menggerakkan saya, menulis apa yang bermakna untuk saya. Walaupun isinya cuma kegalauan, hahaha, setidaknya itu kegalauan yang jujur, bukan hal-hal yang saya kira berguna dan akan disukai orang namun sebenarnya kosong. Untuk apa menulis jika kita tidak menikmatinya.

Jadi, saya akan kembali menulis di sini dan menulis hal-hal yang saya sukai.

Selamat menyongsong matahari 2017, teman-teman.


Comments

Popular posts from this blog

Lekas Sembuh, Bumiku

Ada banyak hal yang memenuhi pikiran setiap orang saat ini, yang sebagian besarnya mungkin ketakutan. Akan virus, akan perekonomian yang terjun bebas, akan harga saham, akan  ketidakpastian akankah besok masih punya pekerjaan. Ada banyak kekuatiran, juga harapan. Ada jutaan perasaan yang sebagian besarnya tak bisa diungkapkan. Tanpa melupakan bahwa kita tak hanya cukup merasa prihatin namun harus mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, marilah kita mensyukuri apa yang masih kita miliki. Setiap detik kehidupan yang masih diberikan kepada kita, atap untuk berteduh, rumah tempat kita bernaung, makanan, udara yang segar, dan keluarga tercinta yang sehat.

Tahun untuk Berjuang

Saya tidak bermaksud membuat blog ini menjadi kumpulan essay galau, apalagi di awal tahun dan awal dekade yang semestinya disambut dengan penuh semangat. Tapi mungkin tahun ini memang saya mengalami krisis usia 30-an. Mungkin juga usia 30 adalah usia mendewasa yang sebenarnya sehingga banyak hal yang mendadak tersangkut di pikiran. Dan mungkin juga tahun ini memang dibuka dengan berbagai duka yang belum selesai dari tahun lalu. Seorang kerabat dekat yang sangat saya sayangi divonis dengan penyakit yang cukup serius tahun lalu, dan tahun ini kami semua berjuang untuk kesembuhannya. Sangat sulit untuk tetap berpikiran positif di saat ketidakpastian yang mencekam ada di depan mata. Selain satu hal ini, ada beberapa hal lain dalam hidup kami yang sedang tidak beres, seakan semesta kami mulai runtuh sedikit-sedikit, dan jiwa saya lumat perlahan-lahan di dalam pusaran masalah yang tak henti. Saya berkali-kali mencoba mengingatkan diri bahwa saya harus tetap berusaha untuk tid...

Bertambah Satu Tahun Usiamu, Bahagialah Kamu...

Sejak usia saya mendekati 30 tahun, menjelang saat berulang tahun selalu menjadi momen untuk menengok target yang selalu rajin saya tulis setiap tahun sejak awal usia 20an. Ingin mencapai ini dan itu, ingin begini begitu. Setiap mau ulang tahun saya juga melihat kembali target jangka panjang saya setiap dekade: before 30, before 40 dan seterusnya. Meskipun target before 40 saya baru saya susun tiga tahun lalu menjelang pergantian usia kepala tiga, tahun ini saya menatapnya kembali dan banyak hal di dalamnya yang sudah tidak terlalu relevan. Banyak hal dalam daftar itu yang tidak lagi saya inginkan. Ada beberapa yang ketika itu nampak besar dan penting namun sekarang tidak lagi. Alangkah anehnya hidup, waktu yang tiga tahun saja bisa mengubah sedemikian banyak hal. Hidup memang selalu berubah dan selalu mengalir. Banyak hal yang tidak kita rencanakan dan tidak kita antisipasi. Semesta menyiapkan kejutan di setiap tikungan jalan dan kita hanya bisa menerimanya sebaik mungk...