Skip to main content

Posts

Berburu SD

Akhir tahun ini ditutup dengan agenda yang cukup serius: mencari sekolah dasar untuk Mbak Rocker. Sejujurnya saya tidak pernah berpikir bahwa mencari SD untuk Mbak Rocker akan melalui begitu banyak pertimbangan. Dulu saya selalu yakin saya akan memasukkan Mbak Rocker ke SD Negeri yang berjarak jalan kaki dari rumah, selesai. Masalah kualitas pendidikan yang kurang, pergaulan yang tidak sehat dan sebagainya, saya pikir akan bisa kami atasi dengan pendidikan dari rumah. Toh orangtua adalah pendidik anak yang utama. Jika kita percaya agama, orangtua jugalah yang akan dimintai pertanggungjawaban akan pendidikan anak di akhirat nanti, berapa pun mahalnya kita membayar sekolah. Maka saya dulu sering berpikir, what's this fuss about school ? Semakin Mbak Rocker mendekati usia masuk SD, saya jadi memikirkan banyak hal. Pertama, jelas, karena sistem zonasi dan kurangnya sekolah negeri di daerah kami, ditambah lagi banyaknya anak  yang sudah melewati usia sekolah tetapi belum sekol...

Ini Bukan Tentangmu

Tahun ini adalah tahun yang penuh duka untuk saya pribadi. Beberapa sahabat dekat saya menjadi korban kecelakaan pesawat JT 610. Menuliskan ini pun rasanya hati saya perih. Beberapa minggu setelah kejadian itu saya banyak murung dan menangis. Banyak yang menyesaki dada saya, entahlah, kehilangan, penyesalan, kekosongan, kesedihan, juga ketakutan. Tentu saja kesedihan saya mungkin tidak ada artinya dibandingkan istri dan suami dua sahabat saya yang ditinggalkan belahan jiwanya pada kecelakaan itu. Saya sendiri tidak tahu harus mengatakan apa kepada mereka, saya tidak sanggup bilang turut berduka cita sampai seminggu setelah peristiwa itu. Rasanya semuanya seperti mimpi. Saya tidak sanggup menatap mata mereka dan melihat kehancuran di sana. Mereka yang ditinggalkan pasangan. Mereka yang harus membesarkan buah hatinya yang kehilangan satu orang tua. Ah, remuk hati ini. Kadangkala, setelah saya bisa berbicara kembali dengan pasangan almarhum sahabat saya, ingin saya mengat...

Quora pun Takkan Tau

Salah satu bagian terberat tetapi juga paling menarik dari menjadi orang tua adalah menghadapi berbagai macam pertanyaan anak yang luar biasa ajaib, dan kadang mustahil dijawab oleh quora sekali pun. Misalnya: Apakah Ultraman itu nabi atau malaikat? Mengapa si A punya dua ayah? Apakah aku juga boleh punya dua ayah? Sepertinya menyenangkan dapat dua hadiah ulangtahun dari ayah. Di mana alamat Tuhan kalau aku mau mengirim paket? Apa yang dinosaurus lakukan di surga? Dan apakah di surga nanti, macan masih berburu rusa? Mengapa ibu X tidak cantik? Dan mengapa si B berambut keriting? Dan setiap hari, ada selusin pertanyaan ajaib lainnya. Apa sih yang dilakukan orang tua kita dulu sebelum ada mesin pencari, ya?

Pahlawan

Hari Pahlawan baru saja terlewati. Pernahkah melihat ke sekeliling kita untuk mengapresiasi  jasa para pahlawan yang mungkin tak ditetapkan status kepahlawanannya oleh sejarah? Para guru honorer yang mendidik anak-anak kita walau dengan gaji sekedarnya. Penjual makanan di pinggir jalan yang bekerja keras memberi makan keluarganya. Tukang kebun yang berkerja malam sebagai satpam agar bisa menyekolahkan anaknya. Mahasiswa yang pontang-panting mencari kerja sambilan karena sudah harus jadi tulang punggung keluarga setelah yatim. Begitu banyak orang yang sedang berjuang di sekitar kita, dengan semangat dan pengorbanan yang tak kalah dari pahlawan perang. Sudahkah kita mengapresiasi, sedikit saja?

Dunia ini fana adanya...

Kesedihan ini sangat mendalam hingga tak sanggup aku mengungkapkan, Kawan, sahabat, bahkan saudara yang tercinta, lenyap dalam genggaman kabut. Dipeluk debur ombak. Kawan, entah apa harus kuucapkan, kepada mereka yang terkasih yang ditinggalkan, yang merasakan duka dan kehilangan terbesar. Semoga Tuhan meringankan, semoga semua jalan dimudahkan, dan pelukan kasih dibukakan, dari segala arah.