Skip to main content

Posts

Kehilangan

Minggu lalu, pakdeku meninggal. Di tengah kepanikan itu, aku entah gimana masih sempat pesan tiket pesawat ke Jakarta via Surabaya, terus akhirnya aku ketinggalan pesawat ke Jakarta, dan nginep di Surabaya sama Miss Turquoise. Sebelum itu aku dijemput sama Mr Cajoon trus kami berdua cerita banyak hal, cerita tentang patah hatinya, patah hatiku, kehidupannya, kehidupanku, dan bagaimana nanti kami berdua bakal ketemu lagi, akhir tahun ini... Mr Cajoon masih seperti dulu, namun aku tahu dia banyak memendam sedih setelah kisah cintanya yang terakhir, I wish I had something to say but I don't. Heart will heal itself. Aku banyak cerita juga sama Miss Turquoise, tentang banyak hal, tentang rencana-rencana ke depan. Hidup rasanya lewat begitu cepat, katanya. Paginya aku terbang balik, aku coba hubungi sepupuku buat ngasih penghiburan, tapi mereka nggak balas, pastinya lagi sibuk banget, nggak kebayang di sana seperti apa, pasti bapak juga terpukul karena pakde satu-satunya keluarganya...

Cemburu

Bukan, bukan kecemburuanku. Aku sih nggak cemburuan orangnya. Ini tentang seseorang yang dulu pernah spesial di hati Mr Cajoon, sahabatku. Mr Cajoon itu sahabat yang sudah kayak saudara buatku, dia memahami aku banget dan begitu juga sebaliknya. Aku sayang dia, dia sayang aku, tapi cuma sebatas teman, sahabat, saudara. We'll do anything for eachother, we always support eachother.  Pokoknya best friends banget dan semua orang di sekitar kami tahu itu. Aku pernah punya seorang sahabat, dia dekat sama Mr Cajoon juga dan suatu hari dia bilang sama aku kalau dia suka sama Mr Cajoon. Dia bilang itu ke Mr Cajoon langsung, aku nggak mau ikut campur, dan ternyata Mr Cajoon nggak bisa membalas perasaannya, tapi dia pengen tetap sahabatan. Mr Cajoon curhat ke aku, begitu juga si teman ini curhat ke aku, dan di sela curhatnya si teman bilang cemburu sama aku karena aku dekat banget dan sering bareng. aku bilang nggak perlu cemburu, aku nggak punya perasaan khusus ke Mr Cajoon dan begi...

21

Apa yang pertama terlintas di pikiran saat saya berulang tahun kemarin? Umur sudah lewat dari dua puluh, lho, apa kabar target? Hahaha, bukannya bersyukur ya, malah mikir yang bikin pusing. Apa sih emangnya targetku? Yang paling dekat tentunya pengen cepet dapat gelar sarjana. Tapi itu kan harus selesaikan dulu kerja magang ini sampai akhir tahun lalu lanjut kuliah D4. Trus setelah itu langsung lanjut kerja dan mungkin cari beasiswa S2 ke Inggris. Dulu waktu masih awal kuliah dan sering merasa kesepian di kos, terus lihat anak-anak alumni STAN yang pada cepet banget nikah, plus waktu itu gaulnya sama mbak-mbak aktivis masjid, pernah lho pengen juga nikah muda, lulus kuliah langsung nikah gitu. Tapi saat ini sih belum kepikiran sama sekali tuh untuk cepet nikah. Malah lebih pengen banyak traveling karena udah punya uang sendiri.  Anyway, ulang tahun kali ini bareng sama teman di kantor tempat aku penempatan... Selain dari orang sekitar, aku cuma dapat se...

Tentang Dia

Dia selalu penting buatku. Dia selalu aku kagumi. Dia selalu aku sayangi walaupun aku nggak tahu sedalam apa dan sebagai apa. Dia selalu di hatiku. Dia selalu buat aku ingin jadi lebih baik agar aku pantas buat dia. Dia selalu aku harapkan walaupun aku bersama orang lain, walaupun aku buka hatiku untuk yang lain. Dia selalu jadi yang nomor satu. Dia selalu buat aku bahagia hanya dengan sms dan obrolan di telepon. Dia yang bisa membuat aku berbunga-bunga seminggu hanya dengan satu telepon. Dia selalu bisa menenangkan aku dengan kedewasaannya. Dia selalu bisa menghiburku saat aku terluka, sedih dan sendirian. Dia selalu mau menolongku. Daia nggak pernah mengabaikan aku. Dia akan selalu aku kenang walaupun entah kami bersama atau nggak.

On Ex(es)

I don't befriend all my exes because some of the breakups were nasty. But at some point, I'm pretty sure I will forgive my exes and myself and they will forgive me and we could be friends again. Friends with history. Tapi saya tidak akan memaksakan pertemanan saat dendam, rasa bersalah, atau cinta belum habis. Karena pertemanan yang begitu akan semu. Saya tidak mau berteman dengan mantan sambil di dalam hati masih cinta dan berharap suatu saat hubungan yang sekarang teman ini akan berubah lagi jadi pacar. Saya juga tidak mau pura-pura berteman sambil di dada memendam kebencian karena dia bersama perempuan lain dan saya berharap suatu saat bisa menusuknya dari belakang. Saya tidak mau berteman sambil menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan dan menertawakan keterpurukan si mantan. Tidak, saya tidak mau. Karena itu, biarkanlah begini saja. Jangan paksakan pertemanan di antara kita. Itu akan datang dengan sendirinya saat kita telah siap. Untuk sementara ini, anggaplah a...