Skip to main content

Posts

Kuberikan Berpuluh Tangkai Fuchsia Scarlet*

gambar dari sini Semua terserah padamu, aku begini adanya, Kuhormati keputusanmu, apa pun yang akan kau katakan. (Broery Marantika) Semua orang punya masa lalu. Seperti Neruda, aku tidak akan cemburu dengan apa pun yang datang sebelum aku. Datanglah dengan sepuluh nama yang telah terhapus di dinding hatimu, datanglah dengan seratus kisah yang telah kaututup lembarannya, datanglah dengan sejuta cap 'I was here' milik orang lain di seluruh tubuhmu, datanglah dengan apa saja dari masa lalumu.  Semua orang juga punya latar belakang. Sesuatu yang bukan tanggungjawabmu, sesuatu yang sudah menjadi takdirmu dan tidak ada yang bisa kaulakukan untuk mengubahnya. Apakah aku harus marah? Dari mana pun engkau datang, bagaimana Tuhan menginginkan engkau diciptakan, bukanlah kewajibanmu untuk menentukan, dan jelas bukan hakku untuk menghakimi. Bagiku, engkau tetap orang yang sama. Dan kini semua kukatakan padamu, agar jangan ada dusta di antara kita kasih. (Broe...

Jakarta

gambar dari sini Saya, selalu ada hati pada Jakarta. Walaupun agak malas membayangkan bekerja di sana dengan segala kemacetan dan kesemrawutannya, namun Jakarta sudah menjadi rumah saya selama hampir tujuh tahun. Saya suka sekali Jakarta, bukan karena mal dan gedung pencakar langitnya, tapi karena  stasiun-stasiun lama, bangunan-bangunan tua, gedung-gedung antik dan sejarah yang dimilikinya. Saya dulu waktu masih jaman kuliah semester tiga, senang sekali pergi ke Mangga Dua naik kereta sampai Kota. Di setiap stasiun, di sepanjang jalan, saya selalu membayangkan kisah-kisah yang terjadi di daerah yang saya lewati. Karet misalnya. Dulu tempat itu merupakan tempat tinggal seorang Tionghoa yang kaya raya dan baik hati. Tanah Kusir merupakan tempat tinggal kusir-kusir delman. Kebayoran Baru. Kebayoran Lama. Tanah Abang. Saya selalu membayangkan kisah-kisah orang-orang jaman dulu, santri-santri yang belajar silat di jaman kolonial,  perkebunan-perkebunan yang luas milik tuan ...

Because You're Amazing Just The Way You Are

Kepada Mr Defender. Aku cinta kamu, tahu. Aku cinta kamu. Menurutmu aku cerewet bertanya dan mengingatkan kamu makan dan istirahat seakan-akan kamu ini anak kecil. Percayalah, aku tahu dan membaca semua teori yang bilang kalau terlalu perhatian pada pria akan membuat pria itu lari. Tapi aku tetap melakukannya karena aku tahu kamu bakalan migren seharian kalau telat makan. Aku cinta kamu. Aku tahu aku membuatmu kesal dengan bilang 'ih iri deh Yella dibikinin lampion cinta sama pacarnya' atau 'Andi so sweet banget deh kalau lagi naksir cewek'. Percayalah aku tidak sedang membandingkan. Aku justru ingin kamu tahu bahwa kamu sangat berarti buat aku, sampai-sampai aku tetap mencintaimu meskipun nggak pernah dikasih kejutan atau kata-kata romantis, hehehe. Aku cinta kamu. Aku selalu bercerita tentang siapalah cowok yang memberiku email-email manis dan sms-sms yang penuh perhatian. Percayalah aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku cuma ingin menunjukkan bahw...

rintik pertama

gambar dari sini Pada suatu kemarau yang sangat panjang, Bumi menulis surat kepada Hujan. Apa kabar, ia bertanya. Tak ada jawaban dari Hujan. Seminggu kemudian, Bumi menulis lagi. Di awal musim, apel-apel meranum. Mereka matang sempurna karena cukup panas matahari. Anak-anak bermain layangan dengan riang setiap hari tanpa khawatir petir. Jadi, tenanglah menyelesaikan apa pun urusanmu di sana. Masih tetap tanpa jawaban. Bumi menulis lagi, terus dan terus. Langit begitu biru dan cerah. Jajanan tukang es laku keras. Pantai-pantai selalu dipenuhi turis. Ia menceritakan semuanya dengan ceria. Tak lupa dibubuhi ikon senyum paling manis dan sebentuk kecup dari bibirnya yang memerah karena terlalu banyak makan stroberi. Tapi ia juga menulis, sekarang anak-anak kecil kangen berhujan-hujan. Mereka bertanya kapan mereka bisa menghanyutkan perahu kertas di selokan. Dan para petani ingin mulai menanam padi. Akan menyenangkan sekali kalau engkau bisa datang. Bumi tidak menunggu j...

Jalan-jalan yang Bersimpangan

gambar dari sini Waktu itu zaman peralihan antara Mr Backpack dengan Mr Mountainbike. Saya memang perempuan egois. Apakah waktu itu Mr Defender menyadarinya? Saya bertemu dengan Mr Defender saat hati saya sedang berada di titik beku. Setelah hubungan saya dengan Mr Backpack jatuh suhunya ke titik minus, saya dan Mr Backpack seperti selembar tiket kereta eksekutif yang bertanggal hari kemarin. Mahal, tapi sudah tak berguna. Dan tak bisa direfund. Begitulah kami. Segala yang sudah kami perjuangkan dari banyak hal, ternyata berakhir karena kami sendiri. Karena saya tidak sabar dalam penantian yang seringkali menenggelamkan harap. Karena Mr Backpack terlalu hati-hati sehingga saya bosan dengan perjalanan yang begitu datar. Karena segalanya mulai berjarak, bukan hanya tubuh tapi juga perasaan kami. Saya semakin sulit untuk terdengar riang di telepon. Mr Backpack kehabisan cerita, atau mungkin enggan menceritakan ke mana saja dia membawa bacpacknya. Lalu hari itu datang. Sa...