Skip to main content

Posts

Beasiswa

Belum lama ini saya mendapatkan sebuah beasiswa yang cukup bergengsi serta dua offer letters dari universitas impian saya di Inggris dan Australia. Cukup impresif, ya? Sayangnya saya belum berjodoh dengan kesempatan ini dan terpaksa melepaskannya untuk orang lain yang menginginkannya lebih dari saya. Perasaan saya? Kecewa, pasti. Banyak orang yang terkejut dan mempertanyakan keputusan saya melepaskan kesempatan ini, belum lagi risiko dimasukkan blacklist dari program beasiswa. Tetapi saya mengambil keputusan ini dengan sadar dan sukarela. Ketika saya dan suami apply beasiswa ini, kami belum menikah. Di tahapan akhir, kami mengetahui bahwa saya hamil dengan kondisi hiperemesis yang parah sehingga bisa dipastikan saya tidak akan bisa terbang pada waktu seharusnya saya mengikuti program persiapan. Dan saya dijadwalkan melahirkan tepat di saat saya seharusnya berangkat. Jadi, kami memang tidak punya pilihan. Tetapi, saya tidak menyesalkan apa pun. Beasiswa masih bisa dicar...

Bangun dari Hibernasi

Blog ini mati suri ternyata. hahaha. Masih dikunjungi setiap hari untuk mengecek apakah ada postingan baru dari blog-blog favorit di blogroll, tapi sama sekali tidak ditulisi lagi :) Sebenarnya banyak sih yang mau ditulis, tapi rasa malas (dan kadang, takut menulis sesuatu yang akan disesali) selalu lebih besar dari rasa ingin menulis itu. Well, tahun sudah berganti, dan saya mendapatkan hadiah tahun baru yang terindah dari alam semesta: janin berumur (saat ini) empat bulan yang tumbuh sehat walaupun menempuh tiga bulan pertamanya dalam hiperemesis dan kondisi kehamilan yang mengkhawatirkan (yang mungkin merupakan salah satu alasan blog ini hibernasi selama waktu di atas). Begitu cemasnya saya akan kondisi kehamilan ini, sampai-sampai saya baru mengabarkan berita gembira ini kepada orang-orang setelah trimester pertama lewat. Tapi syukurlah, sekarang si janin tumbuh sehat, normal dan sempurna menurut USG dokter. Kabar lainnya, akhirnya saya memberanikan diri untuk minta dipind...

nggak jadi 2012

And you know what? I'm so so relieved. Tahukah, saya sempat percaya bahwa ramalan kiamat di tahun 2012 akan terjadi. Dan ternyata, tak seperti yang saya yakini sebelumnya, saya takut... sangat takut. Dibayangi segala penyesalan yang anehnya, lebih banyak tentang masa depan daripada masa lalu. Aneh, tetapi saya lebih banyak mencemaskan hal yang belum saya lakukan dibandingkan kesalahan yang sudah saya perbuat di masa silam. Lebih banyak kuatir karena saya belum ini belum itu dibandingkan karena sudah ini anu. Lebih banyak menyesali hal yang tidak dilakukan dibandingkan yang sudah dilakukan. Jadi, karena semesta masih berbaik hati memberi waktu, saya ingin hidup sepenuhnya. Menjalani hidup seutuhnya, to live life to its fullest.

Dunia Belum Berakhir

Hore, nggak jadi kiamat! Mumpung masih ada waktu di dunia yang sungguh fana ini, marilah kita bersyukur atas segala nikmat yang telah kita kecap. Atas waktu yang sering tersia-sia namun masih kita miliki. Atas badan yang seringkali kita asupi dengan makanan yang tidak sehat, sering kita paksa bekerja melebihi kapasitasnya, namun masih sanggup berdiri menopang jiwa kita. Atas makanan, minuman, semua berkah dan rezeki. Atas kecukupan kita dalam kebutuhan hidup yang primer dan yang nggak primer-primer amat. Atas bumi kita yang sering kita sakiti dan tidak pernah benar-benar kita sadari kerusakannya. Atas udara dan air bersih dan tanah merah dan pasir pantai, pohon dan gunung-gunung. Atas semua perjalanan yang kita lakukan. Dan perjalanan-perjalanan yang kita tempuh. Atas pengalaman hidup yang manis dan yang pahit. Atas segala tawa dan airmata yang pernah tercurah dan pelajaran yang bisa kita rangkum. Dan tak lupa, atas kehadiran orang-orang tercinta di sekeliling kita, e...

Bukan Teman Bermain yang Menyenangkan

Guru favorit saya, Ajahn Brahm, pernah bilang, jangan biarkan siapa pun merenggut kebahagiaanmu. Orang lain boleh memakimu, merendahkanmu, berbuat jahat padamu, namun jangan biarkan perbuatan mereka itu mempengaruhi diri dan kebahagiaanmu. Jangan biarkan diri dan pikiranmu terpengaruh oleh kejahatan yang dilakukan orang lain padamu. Hal sederhana ini adalah misi terbesar saya saat ini. Saya sangat ingin bisa begitu. Tetap tenang dan bahagia apa pun sikap dan pikiran orang pada saya, bagaimana pun buruk perlakuan orang pada saya. Saya ingin bisa, walaupun sulit: biarkan saja, jangan lekati, lepaskan, dan lanjutkan hidup. Alangkah bahagianya jika bisa. Saya sepenuhnya sadar bahwa dalam menjalani hidup saya selama dua puluh lima tahun ini, saya telah membuat banyak keputusan yang tidak populer dan mungkin sulit dimengerti oleh orang lain, bahkan oleh mereka yang saya sayangi dan menyayangi saya. Keputusan-keputusan yang disayangkan (bahkan mungkin disesalkan) oleh banyak orang....