Skip to main content

Yang Nomor Satu


Sepanjang hidup, kita masih akan terus bercerita,
tentang mimpi-mimpi kita, yang sebagian di antaranya,
kita tahu pasti tak akan jadi nyata.
Tentang harapan-harapan, tentang dunia yang lebih indah,
yang kita berharap lahir di sana.
Tentang dunia, yang tak habis-habis kita tertawakan.
Kadang kita bertengkar tentang apakah MU atau Liverpool yang akan jadi juara.
Kadang kita memilih kota yang berbeda saat liburan tiba.
Kita tak selalu menyukai film yang sama,
dan aku membenci Slash yang kamu puja.
Namun entah bagaimana aku tak pernah bosan
dengan semua pertengkaran kita tentang Tuhan, lagu, buku, dan sepatu.
Seperti kamu yang tak  pernah memprotes aku yang melupakan tanggal ulangtahunmu,
aku pun akan menerima, kalau seumur hidup kita,
kamu tetap memilih tidur dibanding jogging pagi.
Dan aku akan tetap mendengarkan semua rekaman gitarmu,
bahkan yang aku paling tidak mengerti.
Dan, yakinlah,
bahwa sebagaimana aku pengkritik terbesarmu,
aku juga fansmu yang nomor satu.
Kita bagaikan dua himpunan yang sangat berbeda,
dengan satu irisan kecil di antaranya.
Dan kita telah sepakat,
walaupun kita tak akan bisa menikmati hidup dengan cara yang tepat sama,
namun kita tak akan sanggup menjalani hidup, bila tak bersama.
Aku mencintaimu, sebesar aku tahu dan yakin pasti,
kamu pun mencintaiku.

Comments

Popular posts from this blog

Lekas Sembuh, Bumiku

Ada banyak hal yang memenuhi pikiran setiap orang saat ini, yang sebagian besarnya mungkin ketakutan. Akan virus, akan perekonomian yang terjun bebas, akan harga saham, akan  ketidakpastian akankah besok masih punya pekerjaan. Ada banyak kekuatiran, juga harapan. Ada jutaan perasaan yang sebagian besarnya tak bisa diungkapkan. Tanpa melupakan bahwa kita tak hanya cukup merasa prihatin namun harus mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, marilah kita mensyukuri apa yang masih kita miliki. Setiap detik kehidupan yang masih diberikan kepada kita, atap untuk berteduh, rumah tempat kita bernaung, makanan, udara yang segar, dan keluarga tercinta yang sehat.

Tahun untuk Berjuang

Saya tidak bermaksud membuat blog ini menjadi kumpulan essay galau, apalagi di awal tahun dan awal dekade yang semestinya disambut dengan penuh semangat. Tapi mungkin tahun ini memang saya mengalami krisis usia 30-an. Mungkin juga usia 30 adalah usia mendewasa yang sebenarnya sehingga banyak hal yang mendadak tersangkut di pikiran. Dan mungkin juga tahun ini memang dibuka dengan berbagai duka yang belum selesai dari tahun lalu. Seorang kerabat dekat yang sangat saya sayangi divonis dengan penyakit yang cukup serius tahun lalu, dan tahun ini kami semua berjuang untuk kesembuhannya. Sangat sulit untuk tetap berpikiran positif di saat ketidakpastian yang mencekam ada di depan mata. Selain satu hal ini, ada beberapa hal lain dalam hidup kami yang sedang tidak beres, seakan semesta kami mulai runtuh sedikit-sedikit, dan jiwa saya lumat perlahan-lahan di dalam pusaran masalah yang tak henti. Saya berkali-kali mencoba mengingatkan diri bahwa saya harus tetap berusaha untuk tid...

sepatu

Pengakuan. Saya (pernah) punya lebih dari 50 pasang alas kaki. Terdiri atas sepatu olahraga, sneakers, high heels, wedges, flat shoes, sandal-sandal cantik, flip flop, sendal gunung, hampir semua model sepatu dan sandal (waktu itu) saya punya. Ada yang dibeli dengan tabungan beberapa bulan, khususnya yang sepatu kantor dan olahraga, tapi sebagian besar berasal dari rak diskon (untungnya ukuran saya 35 up to 36 sehingga sewaktu sale di mana-mana penuh ukuran itu dengan harga super miring, bahkan sering saya dapat sepatu Yongki dengan hanya 20 ribu rupiah saja) atau hasil jalan-jalan di Melawai. Sewaktu saya pindahan dari Jakarta ke Samarinda, Mr Defender sangat syok dengan paket yang berisi baju, sepatu, tas, dan asesoris saya yang jumlahnya mencapai 20 kardus Aqua besar (jangankan dia, saya pun syok). Lalu ketika akhirnya lemari di kos baru saya nggak muat menampung itu semua dan akhirnya sebagian besar dari 20 kardus itu terpaksa tetap dikardusin, setiap saya naksir baju, sepatu,...