Skip to main content

Posts

Lekas Sembuh, Bumiku

Ada banyak hal yang memenuhi pikiran setiap orang saat ini, yang sebagian besarnya mungkin ketakutan. Akan virus, akan perekonomian yang terjun bebas, akan harga saham, akan  ketidakpastian akankah besok masih punya pekerjaan. Ada banyak kekuatiran, juga harapan. Ada jutaan perasaan yang sebagian besarnya tak bisa diungkapkan. Tanpa melupakan bahwa kita tak hanya cukup merasa prihatin namun harus mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, marilah kita mensyukuri apa yang masih kita miliki. Setiap detik kehidupan yang masih diberikan kepada kita, atap untuk berteduh, rumah tempat kita bernaung, makanan, udara yang segar, dan keluarga tercinta yang sehat.

Bertambah Satu Tahun Usiamu, Bahagialah Kamu...

Sejak usia saya mendekati 30 tahun, menjelang saat berulang tahun selalu menjadi momen untuk menengok target yang selalu rajin saya tulis setiap tahun sejak awal usia 20an. Ingin mencapai ini dan itu, ingin begini begitu. Setiap mau ulang tahun saya juga melihat kembali target jangka panjang saya setiap dekade: before 30, before 40 dan seterusnya. Meskipun target before 40 saya baru saya susun tiga tahun lalu menjelang pergantian usia kepala tiga, tahun ini saya menatapnya kembali dan banyak hal di dalamnya yang sudah tidak terlalu relevan. Banyak hal dalam daftar itu yang tidak lagi saya inginkan. Ada beberapa yang ketika itu nampak besar dan penting namun sekarang tidak lagi. Alangkah anehnya hidup, waktu yang tiga tahun saja bisa mengubah sedemikian banyak hal. Hidup memang selalu berubah dan selalu mengalir. Banyak hal yang tidak kita rencanakan dan tidak kita antisipasi. Semesta menyiapkan kejutan di setiap tikungan jalan dan kita hanya bisa menerimanya sebaik mungk...

Kurikulum

Suatu sore, saat saya sedang pusing mengatur jadwal les dan jadwal belajar anak-anak, seorang sahabat lama menyapa lewat pesan singkat. Saya belum sempat membacanya hingga sejam kemudian, karena mengatur jadwal dan kurikulum ekstra anak-anak ini sungguh menguras waktu, energi, dan pikiran. Mengapa? Karena sejak anak masuk sekolah tiba-tiba saya jadi berubah mirip Amy Chua yang ingin anaknya bisa segala hal. Apalagi Mbak Rocker nampak berminat dengan semua kegiatan: main piano, renang, bahasa Inggris dan Mandarin, melukis, taekwondo... Belum lagi hal lain yang tidak dipilihnya namun wajib dilakukan karena dia harus bisa: mengaji, berbahasa Arab dan Jawa, memasak dan berkebun hahaha... semuanya harus dijadwalkan. Kalikan dengan tiga anak, maka habislah waktu ibu mengatur jadwal (serta mengantar jemput). 'Kurikulum' anak-anak memang lumayan padat. Kembali ke pesan singkat teman saya tadi. Dia mengirim pesan panjang yang berisi keluh kesah kehidupan rumah tangganya. Saya cuku...

Mau Jadi Apa?

Kembali ke topik yang pastinya membuat mereka yang sudah membaca blog ini sejak lama muntah atau minimal menguap saking bosannya: karir dan passion . Hahaha, muntah, muntah deh. Brace yourself. Sebab ini merupakan salah satu topik pencarian diri yang memang belum berakhir untuk saya (dan mungkin tidak akan berakhir). Begini, ya, seperti yang semua orang tahu, saat ini saya tidak berkarir di bidang yang sesuai dengan minat saya. Bahkan, saya sendiri tidak tahu minat saya apa. Apakah saya sudah mencoba pepatah bijak jika tidak bisa mengerjakan yang kamu cintai, cintailah apa yang saat ini kamu kerjakan? Hm, sudah, sejuta kali, dan sebesar apa pun saya berusaha tidak mengeluhkan pekerjaan saya, saya memang tidak bisa bilang saya cinta, apalagi menyatakan ini adalah passion saya. Jangan salah, saya bersyukur atas pekerjaan saya, dan saya menikmati semua yang pekerjaan ini berikan: gaji yang cukup untuk hidup layak, waktu yang longgar untuk menikmati anak-anak saya bertumbuh, fasilita...

Tahun untuk Berjuang

Saya tidak bermaksud membuat blog ini menjadi kumpulan essay galau, apalagi di awal tahun dan awal dekade yang semestinya disambut dengan penuh semangat. Tapi mungkin tahun ini memang saya mengalami krisis usia 30-an. Mungkin juga usia 30 adalah usia mendewasa yang sebenarnya sehingga banyak hal yang mendadak tersangkut di pikiran. Dan mungkin juga tahun ini memang dibuka dengan berbagai duka yang belum selesai dari tahun lalu. Seorang kerabat dekat yang sangat saya sayangi divonis dengan penyakit yang cukup serius tahun lalu, dan tahun ini kami semua berjuang untuk kesembuhannya. Sangat sulit untuk tetap berpikiran positif di saat ketidakpastian yang mencekam ada di depan mata. Selain satu hal ini, ada beberapa hal lain dalam hidup kami yang sedang tidak beres, seakan semesta kami mulai runtuh sedikit-sedikit, dan jiwa saya lumat perlahan-lahan di dalam pusaran masalah yang tak henti. Saya berkali-kali mencoba mengingatkan diri bahwa saya harus tetap berusaha untuk tid...

Yang Baru di Tahun Baru

Bertambah tahun, bertambah apa? Setelah menulis posting panjang yang lumayan membuat depresi di penghujung tahun, saatnya menyingkirkan semua perasaan yang buruk di tahun lalu, menyimpan semua yang manis-manis dan melihat ke depan. Walaupun, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saat ini 'ke depan' terasa sangat samar. Mau ke mana? Mau apa? Mau jadi apa? Tahun 2020 mungkin akan menjadi tahun di mana kegalauan saya memuncak tentang arah kehidupan, hahaha. Saya punya hampir segalanya, numbers speaking . Bukan yang uangnya tak berseri juga sih, tapi cukup untuk hidup nyaman setelah bertahun-tahun menabung dan menunda banyak keinginan yang akan menghamburkan uang. Punya tabungan yang cukup untuk kuliah anak-anak di tempat yang saya mau (kalaupun nambah, ya seharusnya tidak banyak-banyak amat). Intinya, we are financially secure, at least according to my own targets . Tentunya di samping itu, banyak juga target hidup saya yang gagal dengan spektakuler, namun itu ceri...

Di Mana Kita Saat Ini?

Saatnya untuk refleksi akhir tahun. Atau tidak? Satu tahun lagi akan berlalu, dan penghujung tahun ini akan menjadi penutup satu dekade sekaligus membuka satu dekade baru lagi. Dan tahun baru pun tiba. Juga dekade baru, tahun anggaran baru, semester sekolah baru, dan semua yang baru. Setiap akhir tahun, setelah pekerjaan kantor selesai dan orang-orang cuti, menjelang pulang kampung untuk merayakan natal, saya selalu beres-beres. Beres-beres rumah, meja belajar anak-anak, menyortir kertas-kertas tagihan dan dokumen tahun lalu serta membuang yang tidak perlu. Membuka ulang lemari anak-anak dan memilah pakaian yang sudah rusak atau kekecilan. Menyimpan baju kekecilan yang masih bagus dan membuang yang sudah tak tertolong. Mendaftar apa yang perlu dibeli dan diselesaikan sebelum kami pulang kampung untuk merayakan natal bersama keluarga Mr Defender. Di kantor saya juga beberes file-file lama, menghancurkan dokumen fisik yang tidak terpakai dan menghapus fike komputer yang ti...

Autopilot

Kadangkala hidup sebagai ibu terasa berjalan dalam mode autopilot. Bangun pagi dengan alarm lagu pembuka Tiger and Pooh (saya menyalakan TV saat bangun tengah malam, setiap malam, menonton Disney Junior sampai ketiduran dan akan bangun jam lima pagi saat Tiger and Pooh tayang, setiap hari tanpa kecuali), berguling di kasur beberapa saat untuk kemudian setengah sadar menyalakan mesin cuci dan memilah baju-baju kotor sesuai warna. Sambil menunggu cucian selesai saya akan mencuci beras lalu memasak nasi, mengecek kulkas dan meja makan lalu menyiapkan sarapan dan bekal sekolah anak-anak berdasarkan apa yang tersisa di sana. Menyusun piring dan gelas cucian tadi malam ke tempatnya. Menjemur cucian saat mesin cuci berbunyi tut tut. Mandi pagi. Menyiapkan baju sekolah anak-anak. Lalu membangunkan semua orang untuk mandi dan siap-siap. Lima belas menit kemudian semua siap keluar dari rumah, ke tempat tujuan masing-masing... ... di mana saya masih berlanjut dengan mode autop...

Tunggulah

hari itu ku mengingat hari ini saat tebak yakinku ini pasti terjadi hari di mana tanah langit juga samudra kabut pagi menyaksikanku merekalah saksi menyaksikanku mati (Akulah Ibumu, FSTVLST) Beberapa hari yang lalu dunia, khususnya para penggemar KPop dikagetkan dengan meninggalnya Goo Hara, setelah selang sebulan sebelumnya Choi Jinri atau Sulli juga mengakhiri hidupnya. Banyaknya kasus bunuh diri di kalangan KPop Idol memang membuat kabar seperti ini seakan hanya another suicide on the news , tetapi mereka yang merasa dekat dengan idolanya pasti akan terguncang, seperti para penggemar musik pop 80-an merasa sedih saat Michael Jackson meninggal. Bagi saya yang bukan penikmat KPop, berita ini juga menyisakan selarik perih lebih karena penyebab meninggalnya Goo Hara (dan Sulli dan banyak KPop idols lainnya). Ditinggalkan seseorang karena bunuh diri berbeda dengan ditinggalkan karena usia tua, sakit, bahkan kecelakaan mendadak. You just can't easily recover f...

Snowflakes

Are you raising snowflakes?  Snowflakes kids, millenial snowflakes ... keluhan yang sering kita dengar sekarang ini tentang generasi muda zaman sekarang. Banyak teman saya yang sering mengeluhkan anak-anak fresh graduate  di kantor mereka yang mirip-mirip sindiran Kaka dan Bimbim di Mars Slankers: tahu sedikit ngakunya sudah paham, kerja sedikit maunya kelihatan. Belum lagi kabarnya mereka mudah sekali terluka harga dirinya jika hasil kerja atau karyanya kurang dihargai, tidak bisa menerima masukan, dan menganggap semua kritikan profesional secara pribadi alias baperan. Intinya, they are snowflakes, mudah ambyar. Tentu saja tidak semua millenial begitu ya. Tetapi yang namanya stereotip juga tidak muncul dengan sendirinya. Mungkin inilah saatnya introspeksi diri, mengapa generasi muda sekarang disebut snowflakes? Dan bagaimana kita sendiri sebagai orangtua? Apakah juga akan membesarkan snowflakes lainnya? Sebagian besar dari generasi saya saat ini, dan juga generasi yang men...

Decluttering, Lagi dan Lagi

Tiga bulan yang lalu, kami sekeluarga pindah tempat tinggal ke sisi lain kota supaya lebih dekat dengan kantor baru dan sekolah anak-anak. Keputusan itu kami ambil setelah sebulan lamanya menempuh perjalanan yang melelahkan setiap hari untuk mengantar jemput anak-anak dan ke kantor. Senangnya, kami tidak butuh waktu lama untuk mencari rumah sewa yang sesuai dengan keinginan kami di lokasi yang kami incar. Yang susah adalah proses pindahannya. Tidak ada yang pernah simpel dari proses pindah rumah, walaupun kami sudah sering menjalani proses ini: pindah keluar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Tetap saja pindahan itu makan waktu, energi dan tentu saja biaya. Satu hal yang kami pelajari setelah berkali-kali pindah rumah adalah: pindahan itu lebih simpel jika kita tidak punya terlalu banyak barang. Seperti Fumio Sasaki yang seisi apartemennya bisa dikemas dalam dua puluh menit saja. Tentu saja ini tidak berarti kami akan hidup benar-benar alakadarnya tanpa membeli perabota...

Menulis

Rajin menulis itu harus dipaksakan, ternyata. Di tahun lalu saya pernah bertekad untuk menulis di blog setiap minggu, entah apa pun isinya, hanya agar saya rajin menulis. Saya juga memaksa diri untuk menulis jurnal rasa syukur setiap pagi, yang biasanya hanya bertahan selama dua minggu sebelum akhirnya berganti kembali menjadi seminggu bahkan sebulan sekali. Mengapa sulit menulis setiap hari, padahal banyak yang ingin ditulis? Klise, tidak ada waktu. Padahal sih rajin memantau sosial media, hahaha. Sewaktu SMP-SMA saya menulis setiap saat. Setiap ada waktu luang. Menulis ratusan cerpen dan puisi yang saya kirimkan ke media cetak untuk tambahan uang saku. Mengikuti berbagai lomba karya tulis juga untuk uang saku. Menulis diari. Menulis fan-fic untuk bacaan pribadi saat saya tidak sabar menunggu sekuel novel atau serial favorit. Menulis novel panjang yang tak kunjung selesai dan ketika dibaca kembali terasa konyol sekali. Dulu menulis itu menyenangkan dan menjadi semacam esc...

Selamat Hari Jadi

Kemarin adalah hari jadi kami yang ke-sekian belas. Lucu juga jika mengingat bahwa hampir separuh umur saya saya habiskan bersama Mr Defender. Menapaki masa-masa akhir remaja yang penuh semangat hidup, gairah, dan kebimbangan bersama. Memasuki jenjang usia dewasa bersama-sama, mencoba menemukan tujuan hidup dan memaknai segala hal dengan mata hati yang baru, yang tak lagi belia. Mengalami banyak kali pertama, dan menjadi banyak hal pertama bagi satu sama lain.  Menjalani ribuan pertengkaran, jutaan ujian dan berbagi beban hidup berdua. Menjadi dewasa bersama-sama.  Banyak hal yang saya rindukan dari masa-masa awal kebersamaan kami. Banyak juga sesal, harapan yang tak terwujud, ekspektasi yang mustahil terpenuhi dan mimpi-mimpi yang terkubur. Banyak kompromi. Banyak toleransi. Dan tentunya, cinta yang melimpah ruah. Cinta. Kata yang sungguh klise, namun tanpanya, tak mungkin kami masih bersama hingga hari ini. Cinta. Semoga bisa kami miliki selama-lamanya.

Selusin Tahun

Dua belas tahun. Selama itu saya sudah menulis di blog ini. Menulis tanpa tema, tanpa tujuan, tanpa manfaat bagi orang lain selain untuk menuangkan isi pikiran saya yang seringnya juga tidak penting. Menulis dari sejak zaman blog belum booming, lalu di zaman di mana blog menjadi diari virtual dan bertukar kabar dengan teman serta bertegur sapa di kolom komentar, hingga saat blog menjadi semacam majalah online dengan foto ala katalog, dan saat ini, di mana sebagian besar blog sudah mati suri. Dan blog ini, tetap begini-begini saja. Tidak pernah merasa ingin mencari uang lewat blog. Lha wong isi blognya juga nggak penting. Nggak mencari kepopuleran, bahkan juga nggak mencari sahabat pena. Saya menulis karena ingin menulis saj. Karena ada yang ingin dituangkan. Kalau sedang tidak ingin ya tidak menulis. Selusin tahun, apa yang sudah saya tulis? Di blog ini, mungkin hampir tidak ada yang penting atau bermanfaat bagi pembacanya. Sebab saya menulis lebih sebagai refleksi dir...

Berbagi, dan Pemalakan

Apa hubungan berbagi dengan palak memalak ya? Kedua anak saya yang sudah bersekolah memiliki karakternya masing-masing. Mbak Rocker adalah si gadis manis yang selalu berusaha menyenangkan teman, senang berkenalan dan memiliki teman baru, namun di sisi lain, dia si introvert yang sering merasa lebih nyaman bermain dan makan siang sendiri daripada bergerombol dengan teman. Juga, dia si anak patuh yang selalu melapor pada guru atau pihak yang berwenang jika melihat temannya melakukan sesuatu yang dirasa salah. Si Racun Api, di lain pihak, adalah si bad boy  yang populer dan selalu dikelilingi teman dan pengagum yang ingin main dengannya. Dia terkadang ringan tangan dan menggunakan fisik terlalu keras saat bermain, namun teman-temannya selalu menyukainya. Saya pikir, kedua anak saya tidak rentan menjadi korban bullying atau perundungan, bahkan saya cenderung kuatir si Racun Api akan menjadi si perundung, namun saya salah. Beberapa hari yang lalu ketika mengobrol santai dengan M...

Sekolah Baru

Selamat tahun ajaran baru! Tahun ini Mbak Rocker masuk Sekolah Dasar di sekolah swasta yang sudah kami pertimbangkan bersama masak-masak selama beberapa waktu lamanya. Tambahan yang tak terduga, si Racun Api mendadak mogok sekolah di sekolah lamanya sehingga kami memutuskan untuk memindahkannya ke Taman Kanak-Kanak yang satu yayasan dengan sekolah kakaknya sekarang. Tentu saja walaupun mendadak dan tanpa rencana, proses pindah sekolah ini berlangsung dengan huru-hara dan drama singkat yang puji syukur bisa teratasi tanpa perlu ikut drama di media sosial. Yang penting, tahun ajaran baru datang dan anak-anak sudah bersekolah di sekolah baru. Amin! Allahu akbar! Bersekolah di sekolah baru ini, sungguh membuka mata saya tentang banyak hal. Terutama, tentang bagaimana rasanya menjadi minoritas. Saya lupa apakah sudah pernah bercerita, tetapi sekolah anak-anak yang sekarang menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin sebagai pengantarnya. Tentu saja kami sudah tahu sebelumnya, dan bahkan ...

Berada di Puncak

Sekitar dua bulan yang lalu saya membaca tulisan di atas dari status WA seorang teman lama. Saya merenung lama dan  walaupun sudah lama saya mengesampingkan karir demi bisa berada di sisi anak-anak, isi tulisan tersebut membuat saya tersenyum. Kenapa? Sebab selama ini saya tidak pernah merasa 'sukses' dalam karir. Tidak pernah merasa di puncak, sebab mungkin posisi saat ini memang masih di dasar piramida. Namun membaca cara orang lain mendefinisikan 'puncak' sungguh mencerahkan. Puncak tidak selalu harus berada di pucuk pimpinan atau posisi penting lainnya. Mungkin selama saya bahagia dan merasa memiliki segalanya dalam hidup ini, saat itulah saya sudah di puncak. Mungkin puncak saya 'cuma segini', tidak ada tempat yang lebih tinggi lagi untuk didaki, dan tentu saja itu tidak apa. Mungkin, atau mungkin juga tidak. Sebagaimana manusia mendefinisikan bahagia, mungkin puncak karir juga bisa dimaknai kembali.

there are no grownups

Esai yang sangat mengesankan dari Pamela Druckerman tentang usia kepala empat. Seperti biasa esai-esai Pamela selalu jujur, menohok dan membuat kita menertawakan diri sendiri. Dalam buku ini Pamela membicarakan tentang menginjak usia empat puluh: kemudaan yang hilang, karir yang (harusnya) berada di puncak, kedewasaan, kematangan emosi, hubungan seksual (termasuk satu sesi pendek tentang threesome yang mindblowing banget membacanya!). Membaca buku ini membuat saya makin ingin menikmati usia 30-an sebelum usia kepala empat datang tanpa terasa. Dan saya yakin saat itu akan datang lebih cepat dari yang kita duga. Cheers@ 

tv personality i love

I know that they're one hundred percent fictional, but I can't help loving them all... Jane Rizolli, Rizolli and Isles She's strong, stubborn, smart, and sarcastic. And she will do anything for those she loves. (Not to mention she's very pretty yet athlethic, means basically who I want to be if I was a cop) Jessica Huang, Fresh Off The Boat She's my #momgoals.  Martin Riggs, Lethal Weapon Sometimes what looks like a terrible mess is actually a terriffic man. He has everything I love, and I get why all those girls fell for him. He's a true keeper. Camille Engelson, Stitcher She doesn't quite get the credit (or attention) that she deserves, but she's a true rockstar. A feminist rockstar. Kimball Cho, The Mentalist Patrick Jane can barely get into his coolness (and cynical palm face). even he almost oushine the real mentalist. Tracy McConnell, How I Met Your Mother She's what my dreams are made of. My...

Traveling with (3) Kids

Karena frekuensi bepergian dengan membawa tiga orang anak ini sudah saya lakukan lebih dari sepuluh kali, dengan media darat laut dan udara, dan pernah saya lakukan baik sendiri maupun berdua suami, rasanya saya cukup layak dan berkualifikasi untuk membagi kisah dan mungkin tips tentang bepergian bersama tiga anak. Traveling adalah salah satu pengisi libur favorit saya sejak sebelum bertemu Mr Defender. Dulu saya suka naik gunung dan suka membolang ke kota asing. Sejak punya anak, frekuensi traveling saya berkurang jauh. Sebaliknya, Mr Defender sebenarnya tidak terlalu suka traveling, tapi dituntut untuk sering bepergian demi urusan pekerjaan.  Sejak punya anak, kami melakukan perjalanan besar atau jarak jauh 2-3 kali setahun. Sisanya perjalanan pendek ke kota-kota di sekitar yang bisa ditempuh kurang dari empat jam dengan kapal atau kurang dari dua jam dengan pesawat. Karena seringnya Mr Defender dinas keluar kota, seringkali pilihan traveling yang paling memungkinkan b...