Skip to main content

di sudut pecinan


Saya adalah pengagum bangsa China. Mulai dari kebudayaan masa lalunya yang luar biasa bahkan sejak zaman awal mula peradaban (terima kasih National Geographic atas jendelanya yang membuat semua orang bisa sedikit mengintip dunia), kecintaan mereka terhadap negeri sendiri, tradisi, dan leluhur, juga pemikiran-pemikiran orang besar dari masa lalunya yang luar biasa. Baik itu Sun Tzu sang jenderal perang maupun Konfusius dan Tao. Everything Chinese is beautiful to me. China, saat ini adalah salah satu negeri yang budayanya paling ingin saya pelajari selain Jawa dan India. Sekarang ini sebagian besar bacaan saya adalah sari-sari pikiran pembesar China jaman dulu. Dan kecintaan saya juga termasuk pada hal-hal lain yang lebih pragmatis: etos kerja pendatang China yang luar biasa, kemampuan (dan kemauan) mereka beradaptasi (coba perhatikan keturunan tionghoa di sekitar kita, mereka pasti bisa berbahasa mandarin/kanton dan bahasa daerah tempat tinggalnya sama baik), keramahan para pemilik toko China (khususnya sangat terasa di kota ini di mana penduduk aslinya, maaf saja, tidak menganggap konsumen adalah raja).

Sekarang ini, dan dari sejak mula saya tinggal di Samarinda, tempat-tempat favorit saya untuk apa saja hampir semuanya milik keturunan Tionghoa. Mulai dari Kedai Sabindo tempat minum teh tarik dan makan roti cane, Anne's Ice Cream, restoran masakan China IMB, Pontianak, Kepiting Asap Borneo sampai kedai sarapan pagi Surya (nanti semuanya saya reviu satu per satu beserta foto, janji!) Bahkan tempat belanja  (kelontong) favorit saya adalah Mega Swalayan, swalayan peranakan yang menjual bahan makanan dari Malaysia dan Hongkong (yang tidak dijual di tempat lain). Saya membeli kedua sepeda saya di toko sepeda milik seorang cici (yang juga menjual buku-buku konfusius) dan mendapat diskon (yang bahkan lebih murah dari harga di situs resmi Polygon) serta layanan purnajual yang mengesankan.

Beberapa teman saya sering bilang saya tidak cinta bangsa sendiri karena kebiasaan saya memilih toko China ini. Tapi mungkin pada dasarnya saya memang bukan seorang nasionalis (dan maaf saja, buat saya nasionalis itu tidak jauh berbeda dengan sukuisme dan fanatisme agama, atau maniaknya suporter bola). Saya hanya pembeli biasa yang menginginkan pelayanan terbaik dengan harga terbaik (lagipula kalau sedang di rumah saya selalu memilih toko orang Jawa, saya suka bertransaksi dengan bahasa Jowo kromo inggil :D). Saya cuma penikmat dunia yang kebetulan jatuh cinta dengan kebudayaan mereka. Salah? Kalau ingin toko-toko milik pribumi laku ya jangan cuma modal menyuruh orang nasionalis, dong. Kalau pelayanan lebih baik pasti orang juga nggak akan ragu beralih kok. Dan jangan juga menuduh orang lain, suku lain, bangsa lain memonopoli atau malah punya rencana konspirasi. Mereka cuma bekerja lebih keras dan mungkin lebih cerdas. Kita-nya yang harus bisa bersaing.

Keterangan : Gambar di atas adalah bangunan favorit saya di Samarinda, sebuah ruko empat lantai milik orang China, lantai satunya toko musik dan olahraga, lantai dua dan tiga rumah tinggal, dan lantai paling atas adalah taman dengan sebuah kuil.

Comments

Popular posts from this blog

Lekas Sembuh, Bumiku

Ada banyak hal yang memenuhi pikiran setiap orang saat ini, yang sebagian besarnya mungkin ketakutan. Akan virus, akan perekonomian yang terjun bebas, akan harga saham, akan  ketidakpastian akankah besok masih punya pekerjaan. Ada banyak kekuatiran, juga harapan. Ada jutaan perasaan yang sebagian besarnya tak bisa diungkapkan. Tanpa melupakan bahwa kita tak hanya cukup merasa prihatin namun harus mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, marilah kita mensyukuri apa yang masih kita miliki. Setiap detik kehidupan yang masih diberikan kepada kita, atap untuk berteduh, rumah tempat kita bernaung, makanan, udara yang segar, dan keluarga tercinta yang sehat.

Tahun untuk Berjuang

Saya tidak bermaksud membuat blog ini menjadi kumpulan essay galau, apalagi di awal tahun dan awal dekade yang semestinya disambut dengan penuh semangat. Tapi mungkin tahun ini memang saya mengalami krisis usia 30-an. Mungkin juga usia 30 adalah usia mendewasa yang sebenarnya sehingga banyak hal yang mendadak tersangkut di pikiran. Dan mungkin juga tahun ini memang dibuka dengan berbagai duka yang belum selesai dari tahun lalu. Seorang kerabat dekat yang sangat saya sayangi divonis dengan penyakit yang cukup serius tahun lalu, dan tahun ini kami semua berjuang untuk kesembuhannya. Sangat sulit untuk tetap berpikiran positif di saat ketidakpastian yang mencekam ada di depan mata. Selain satu hal ini, ada beberapa hal lain dalam hidup kami yang sedang tidak beres, seakan semesta kami mulai runtuh sedikit-sedikit, dan jiwa saya lumat perlahan-lahan di dalam pusaran masalah yang tak henti. Saya berkali-kali mencoba mengingatkan diri bahwa saya harus tetap berusaha untuk tid...

sepatu

Pengakuan. Saya (pernah) punya lebih dari 50 pasang alas kaki. Terdiri atas sepatu olahraga, sneakers, high heels, wedges, flat shoes, sandal-sandal cantik, flip flop, sendal gunung, hampir semua model sepatu dan sandal (waktu itu) saya punya. Ada yang dibeli dengan tabungan beberapa bulan, khususnya yang sepatu kantor dan olahraga, tapi sebagian besar berasal dari rak diskon (untungnya ukuran saya 35 up to 36 sehingga sewaktu sale di mana-mana penuh ukuran itu dengan harga super miring, bahkan sering saya dapat sepatu Yongki dengan hanya 20 ribu rupiah saja) atau hasil jalan-jalan di Melawai. Sewaktu saya pindahan dari Jakarta ke Samarinda, Mr Defender sangat syok dengan paket yang berisi baju, sepatu, tas, dan asesoris saya yang jumlahnya mencapai 20 kardus Aqua besar (jangankan dia, saya pun syok). Lalu ketika akhirnya lemari di kos baru saya nggak muat menampung itu semua dan akhirnya sebagian besar dari 20 kardus itu terpaksa tetap dikardusin, setiap saya naksir baju, sepatu,...